#Startup 4 : diobat.in : Tanpa Riset, Modal Nekat Dan Hasilnya....
Cerita ini merupakan serial perjalanan bisnis. Jadi baca semua dari sini ya
#Startup 3 : Alat Penghemat BBM dan Sistem Kecerdasan Buatan Untuk Kesehatan
=========================================================
Perjalanan untuk membuat sebuah startup yang berhubungan dengan kesehatan akhirnya dimulai di tahun 2014 bulan April.
Startup yang gw buat namanya diobat.in.
Saat itulah gw mulai mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit (menurut gw tidak sedikit tapi menurut orang lain bisa saja cuma dikit banget..hehe).
Gw bekerjasama dengan anak AMIKOM untuk mendevelop website ini.
Oh ya di tulisan ini (#Startup 3 : Alat Penghemat BBM dan Sistem Kecerdasan Buatan Untuk Kesehatan) gw mau membuat sistem kecerdasan buatan untuk dunia kesehatan.
Tapi ternyata belok dengan sendirinya.
Jadi diobat.in adalah sebuah website yang didalamnya mempunyai fitur inti yaitu masyarakat bisa konsultasi online langsung dengan dokter melalui chat. Konsepnya mirip private message di facebook.
Mengapa gw membuat website diobat.in?
Karena gw ngerasa ada banyak masyarakat yang susah untuk berkonsultasi dengan dokter karena tidak adanya jalur.
Saat itu gw ngerasa gampang untuk menanyakan kondisi kesehatan karena gw bekerja di lingkungan dokter.
Tapi bagaimana yang tidak punya kenalan dokter?
Atau apakah harus sakitnya dipendam sampai agak parah dulu baru ke rumah sakit?
Gw berharap diobat.in ini bisa menjadi sarana agar masyarakat mudah buat berkonsultasi dengan dokter sebelum tindakan yang lebih serius.
diobat.in sempat diujicobakan dengan salah satu rumah sakit swasta di Jogjakarta.
Namun semua masalah baru diketahui setelah website ini benar-benar jadi.
Ya, awalnya gw membuat website tentang konsultasi kesehatan ini adalah untuk menjembatani antara masyarakat awam dengan dokter.
Namun ternyata sistem yang gw kembangkan mempunyai kelemahan terbesar yaitu ketika website di buka di browser, kita tidak akan mendapatkan notifikasi langsung saat browsernya diminimize yang artinya kemudahan berkonsultasinya menjadi hilang.
Gw membuat website diobat.in tidak menggunakan metode riset dll.
Gw membuat web diobat.in ini hanya karena gw ngerasa kayaknya ini bermanfaat. Hanya bermodal asumsi saja.
Hasilnya gagal total karena :
1. Masyakarat belum terbiasa untuk berkonsultasi dengan dokter
2. Gw langsung membuat website tanpa riset yang dibutuhkan sebenarnya apa.
Jadi kalo dulu gw hanya bermodal sms saja mungkin tidak akan separah itu kerugiannya.
Mas Aga sebenarnya sudah berpesan. Kalo kamu mau bisnis atau membuat inovasi coba dari langkah paling sederhana.
Kalo memang responnya baik baru dilanjutkan ke tahap teknologi yang lebih baik.
Padahal saat itu gw sudah bekerjasama dengan 7 dokter. Dari dokter di FK UGM dan RSIY PDHI Yogyakarta (Terima kasih dr. Widodo Wirawan)
Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.
3. Teknologi yang tidak tepat
Ini sudah gw jelaskan di poin 2. Dan saat ini sudah gw terapkan di aplikasi terbaru gw yaitu SENYUM INDONESIA. (Klik aja disini senyum.dental.id)
Setelah kegagalan itu apa gw nyerah? Enggak.
Gw langsung membuat aplikasi lanjutan yang masih berhubungan dengan kedokteran tapi dengan konsep aplikasi bukan website.
Apakah yang aplikasi ini sukses?
Baca di #Startup 5
Kaliurang (Kos)
13/02/2019
05:51

Komentar
Posting Komentar