Persepsi Setiap Orang Berbeda


Sudah lama sekali sebenarnya gw ingin menulis tentang persepsi ini.

Karena saat ini, mispersepsi semakin hari semakin membuat hubungan antar manusia mudah renggang apalagi ditambah komunikasi via gadget yang tidak mengandung "rasa".

Suatu hari ada 2 orang yaitu Agus dan Budi.

Budi meminta tolong kepada Agus sebagai bawahannya untuk mengantar barang yang tertinggal ke kantor Budi.

Agus merasa jaraknya terlalu jauh dan memberi ide untuk menggunakan layanan gojek.

Budi pun sepakat dan memberikan detail alamat kepada Agus agar Agus bisa memesan layanan gojek dan alamatnya sesuai dengan apa yang diberikan oleh Budi.

Semua pun selesai. Biaya gojek ditanggung oleh Agus.

Suatu hari Budi datang kepada Agus

"Kemaren biaya gojeknya berapa?"

"Hanya 7000 pak Budi" sahut Agus.

"Nih, saya ganti" Jawab Budi sambil mencari beberapa lembar uang 7000 di sela-sela uang 20 dan 50ribuan.

Agus membayangkan kenapa Budi kok susah sekali memberikan 20ribuan padahl dia kan bos. Masa hutang 7000 ya digantinya 7000 juga. Effort mencari gojek terus menunggu gojeknya datang enggak dihargai.

Budi membatin "Aku harus mengganti biaya yang dikeluarkan oleh pegawaiku walaopun itu hanya 7000"

Contoh cerita persepsi lainnya

Ada 2 orang anggota keluarga yang sedang mengadakan bersih-bersih rumah. Namanya Budi dan Nina.

Suatu hari Nina sedang membereskan ruangan agar terlihat lebih bersih dan lebih indah. Nina tau kalo di ruangan itu Budi sedang bermain komputer.

Nina hanya bisa membatin "Kok anak ini enggak peka ya, masa saya beres-beres begini dia hanya diam saja"

Budi yang melihat Nina beres-beres ruang juga ikut membatin 

"Aduh, lagi beres-beres nih. Aku ingin bantu tapi kok Nina enggak bilang ya. Aku takut kalo tiba-tiba bantu-bantu Nina enggak suka dibantu." 

Aku bukannya tidak responsif dan inisiatif. Tapi aku tipikal orang yang mending diperintah sesuai apa yang diinginkan dibanding mengajukan diri untuk membantu.

Itulah situasi persepsi yang jika tidak dikelola bisa menimbulkan friksi minimal di hati.

Nina membatin kenapa Budi tidak segera membantu. Disisi lain Budi pengen membantu tapi karena tipikalnya mending menerima perintah dibanding inisiatif.

Cerita ketiga dan ini sering terjadi di whatsapp

Aan menulis di sebuah grup whatsapp yang ditujukan ke Indra

"Eh piye bro? Kok enggak jadi. Wah masa begitu saja langsung batal"

Dia menuliskan kalimat di atas dengan situasi tersenyum karena sedang makan dan lagi berkumpul dengn teman-temannya.

Indra membaca tulisan Aan di grup dan sedang berada di situasi macet dan dikejar deadline merasa panas dan langsung membalas

"Enggak usah ngegas mas Aan. Ini slow saja kok"

Aan yang mendapat notifikasi dan mmebaca tulisan ngegas juga mulai merasa kesal 

"Lah siapa yang ngegas bro. Aku nulisnya sambil nyante kok. Kamu yang malah ngegas"

Itulah bahaya diskusi di media sosial yang memang tidak mempunyai "rasa"

Dan ini sering terjadi di grup-grup whatsapp.

Banyak kasus di masa sekarang tentang persepsi yang berbeda namun tidak dikomunikasikan.

Dan biasanya berujung dengan membuat stigma bahwa si A atau si B adalah orang yang buruk karena bla..bla..bla.

Butuh komunikasi dan hati yang lapang agar mispersepsi seperti ini bisa diminimalisir.

Kaliurang (Kos)
14/02/2019
05:37

Komentar

Artikel Yang Sering Dibaca

#Gigi 1 : Semua Itu Gara-Gara Salah Cabut

#Gigi 6 : Hal Yang Harus Kamu Tahu

Simbol : Kini, Nanti Dan Hati

Akhirnya Trending

#Gigi 3 : Persiapan Akhir Sebelum Mulai