Pendidikan Politik Alay
![]() |
| Sumber : https://geotimes.co.id/opini/permainan-politik-bocah/ |
Jika kamu membaca tulisan ini di
tahun 2019 sebelum bulan April, kemungkinan besar kamu sedang merasa gondog
dengan keadaan yang terjadi di dunia perpolitikan.
Kondisi yang menyebalkan ini
mulai muncul sekitar tahun 2014 dan diperparah dengan kasus “penghinaan agama”
yang dilakukan oleh gubernur salah satu provinsi.
Namun ada beberapa hal yang
menurut gw perlu disoroti terkait perpolitikan di negeri ini.
1. Banyak hoax yang bertebaran
Ada banyak sekali kabar hoax yang
tidak jelas dan disebarkan melalui sosial media baik whatsapp, facebook maupun
twitter. Dan kabar ini dilakukan oleh kubu X dan kubu Y.
Gw berharap Mark Zuckerberg tidak
ikut dosanya walopun dia yang menciptakan media sosial ini.
Selain itu pasti kasian sekali generasi yang akan datang terkait data karena pertanyaan pertama itu bukan "apakah datanya sudah divalidasi?" tetapi "Hoax atau bukan"?
2. Saling menyebut dengan nama
binatang
Entah siapa yang memulai, tetapi
yang jelas penyebutan sekelompok kaum dengan nama-nama binatang jelas bukan hal
yang patut dibanggakan untuk anak cucu kelak.
Bayangkan generasi berikutnya mulai mengenal dunia politik di tahun 2030-an dan mereka mendapati ada 2 kelompok
besar yang bukan partai, bukan binatang, bukan alien tapi bisa bersatu padu
saling menyerang dan saling menghujat.
3. Petugas dan wakil yang tidak
pada tempatnya
Saat ini antara petugas partai
(Katanya sih pak presiden pernah menyebut dirinya petugas partai) dan wakil
rakyat sama-sama memprihatinkan.
Entah siapa yang salah tetapi
memang politik di Indonesia menggunakan sistem Presiden dipilih oleh rakyat
melalui kendaraan partai. Dan rakyat ketika mau bicara dengan pemerintah harus
melalui wakil rakyatnya. (Harusnya begini kan aturan mainnya?)
Sekarang apa yang terjadi. Setiap
hari gontok-gontokan antara orang-orang yang mengaku pro pemerintah dengan
orang-orang yang mengaku wakil rakyat.
Yang dibela siapa? Entahlah. Yang jelas
rakyat hanya sekedar menjadi ‘karpet merah” untuk menuju kekuasaan.
4. Salah data
Ini dilakukan oleh kubu X dan
kubu Y. (Ya Allah mengapa dalam 2 kali pilihan presiden calonnya hanya 2. Resiko kalo hanya dua begini jika tidak X pasti Y. Padahal kan ada Pak Nurhadi)
Masing-masing kubu sering sekali
melontarkan sebuah data kemudian diralat.
Sudah melakukan konferensi pers
ternyata “kegiatan yang dimaksud” adalah hoax dan kemudian diralat.
Pemerintah juga hobi mengeluarkan
peraturan yang tak lama kemudian diralat.
Siapa yang salah. Entahlah.
5. Wakil rakyat yang (tidak)
mencerminkan rakyat
Gw masih menganggap wakil rakyat
adalah orang yang memang punya “rasa” untuk memperjuangkan apa yang dirasakan
oleh rakyat.
Semisal rakyat menderita karena
banyaknya impor dan melalui wakil rakyat yang sudah dipilih mereka
bertugas untuk mendiskusikan dengan pemerintah langkah yang terbaik.
Contoh misal kalo kita sekolah.
Siapa yang berani diskusi dengan guru dialah yang ditunjuk untuk menyuarakan
keinginan kelas.
Tapi nyatanya sekarang tidak.
Wakil rakyat adalah orang yang kebanyakan kaya, yang kemudian oleh partai
disuruh maju untuk menjadi wakil rakyat. Bukan orang yang memang berjuang untuk
rakyat.
Aneh.
6. Dosa yang tidak disadari dan tidak didasari
Poin keenam ini dapat inspirasi dari Eko Pvrnomo.
6. Dosa yang tidak disadari dan tidak didasari
Poin keenam ini dapat inspirasi dari Eko Pvrnomo.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah tentang dosa jariyah atas share and reshare berita hoax, hate speech, hasutan, merasa paling benar dan lawan pasti salah, serta berdalil yg hanya untuk berdalih.
Komentar di atas menunjukkan kalo sekarang banyak sekali dosa-dosa yang tidak disadari dan bahkan mereka bangga ketika apa yang dishare menjadi viral dan membuat sebagian kalangan ibu-ibu menjadi cemas (share artikel tidak bermutu biasanya masuk di grup Whatsapp yang isinya emak-emak).
Selain dosa yang tidak disadari ada lagi dosa yang tidak didasari.
Contohnya begini. Jika kamu memilih capres Y maka kamu akan masuk surga karena itu sesuai perintah ulama.
Lah...sejak kapan masuk surga karena milih capres.
Besok bisa aja masuk surga karena milih lurah atau bahkan milih RT. (Kalo masuk surga karena milih pasangan masih relevan..uhuks). Atau parahnya milih klub bola bisa masuk surga atau neraka (Yang fans MU siap-siap karena simbolnya aja SETAN)
Ini kan tidak ada dasarnya alias tidak didasari oleh ilmu.
Aneh tapi kenyataannya ada di negara berflower berinisial +62.
7. Pembuktian terbalik yang ngawur
Contohnya begini. Misal kamu punya teman orang Indramayu dan kamu sudah tau ktpnya memang tertulis kelahiran Indramayu dan beralamat di Indramayu.
Terus kamu iseng bilang ke orang-orang jika (misal Eko) adalah orang Kebumen.
Semua teman-temanmu dan teman-teman Eko bilang kalo Eko orang Kebumen.
Si Eko menyangkal. Tapi teman-temannya malah bilang "buktikan kalo kamu memang orang Indramayu".
Paham kan?
Jaman sekarang banyak kasus begitu. Orang benar dikelilingi orang salah menjadikan orang benar itu ragu apakah dia memang benar.
8. Rebutan simbol
Ini juga lucu sih...Kalian bisa baca disini (Simbol: Kini, Nanti dan Hati)
Ada yang marah gara-gara simbol.
Ada yang saling klaim simbol.
Ada yang menganggap simbol capres juga representasi hubungan keagamaan.
Pokoknya unik-unik dech...
Selain dosa yang tidak disadari ada lagi dosa yang tidak didasari.
Contohnya begini. Jika kamu memilih capres Y maka kamu akan masuk surga karena itu sesuai perintah ulama.
Lah...sejak kapan masuk surga karena milih capres.
Besok bisa aja masuk surga karena milih lurah atau bahkan milih RT. (Kalo masuk surga karena milih pasangan masih relevan..uhuks). Atau parahnya milih klub bola bisa masuk surga atau neraka (Yang fans MU siap-siap karena simbolnya aja SETAN)
Ini kan tidak ada dasarnya alias tidak didasari oleh ilmu.
Aneh tapi kenyataannya ada di negara berflower berinisial +62.
7. Pembuktian terbalik yang ngawur
Contohnya begini. Misal kamu punya teman orang Indramayu dan kamu sudah tau ktpnya memang tertulis kelahiran Indramayu dan beralamat di Indramayu.
Terus kamu iseng bilang ke orang-orang jika (misal Eko) adalah orang Kebumen.
Semua teman-temanmu dan teman-teman Eko bilang kalo Eko orang Kebumen.
Si Eko menyangkal. Tapi teman-temannya malah bilang "buktikan kalo kamu memang orang Indramayu".
Paham kan?
Jaman sekarang banyak kasus begitu. Orang benar dikelilingi orang salah menjadikan orang benar itu ragu apakah dia memang benar.
8. Rebutan simbol
Ini juga lucu sih...Kalian bisa baca disini (Simbol: Kini, Nanti dan Hati)
Ada yang marah gara-gara simbol.
Ada yang saling klaim simbol.
Ada yang menganggap simbol capres juga representasi hubungan keagamaan.
Pokoknya unik-unik dech...
Pendidikan politik macam apa
kalau seperti ini.
Bayangkan di tahun 2030 yang
katanya negara akan hancur.
Menurut gw negara hancur bisa
saja itu terjadi jika saat ini anak-anak yang akan berpolitik di tahun 2030
harus mendapat pelajaran tentang “keanehan-keanehan” politik yang alay.
Orang tua sekarang menganggap
generasi anak-anak usia remaja cenderung generasi alay.
Orang tua sekarang sibuk dengan keanehan politik alay dan lupa bahwa generasi usia remaja sekarang yang akan menggantikan mereka di tahun 2030.
Bayangkan
sekali lagi bagaimana generasi yang mengisi tahun 2030 saat melihat orang tua
di generasi 2019.
Jangan terlalu alaylah dalam
berpolitik jika ingin meninggalkan negara dalam keadaan damai di tahun-tahun
yang akan datang.
Salam kecepret (kecebong dan
kampret)
Kaliurang (Kos)
21/02/2019
05:57

Komentar
Posting Komentar